Senin, 25 Februari 2008

WASPADAI JUALAN KOMPOR

MALANG - Munculnya keberatan soal aturan 24 jam tatap muka dalam satu minggu bagi guru yang lulus sertifikasi mengundang keprihatinan DPKM (Dewan Pendidikan Kota Malang). Bagaimanapun guru tidak bisa dibiarkan tanpa aturan, karena bisa mengganggu pengembangan pendidikan. Bukan hanya Kota Malang, namun juga secara keseluruhan.

"Dengan penyelenggaraan sertifikasi, guru memang sedang bersekutu dengan dewa mabuk reformasi. Guru pun terjebak dalam iklim reformasi. Artinya, dalam skala tertentu guru seakan mendapatkan kebebasan," ungkap Drs Soeparto MPd, sekretaris I DPKM.

Kondisi ini, kata Parto -demikian dia disapa- tidak bisa dibiarkan. Aksi keberatan yang mereka sampaikan perlu kembali direnungkan lagi. Sebab, aturan mengajar 24 jam tatap muka dalam satu minggu sudah cukup relevan untuk dijalankan. Terlebih lagi aturan tersebut berlaku pada mereka yang notabenenya sudah memegang sertifikat kompetensi.

Memahami pro kontra ini, Parto mengingatkan pentingnya melihat profesi guru yang dikembalikan pada khittahnya. Garis besarnya, guru bekerja bukan untuk mencari laba. "Kalau dalam istilah saya guru bekerja atas dasar G-spot based profession. G-spot di sini bukan bagian dari alat reproduksi wanita," kata Parto.

Istilah G-spot, kata dia, berasal dari God-spot yang ditemukan oleh Dr Vilayanur Ramachandran dari Universitas California, yang berarti titik kesadaran manusia atas Tuhannya. "Berdasarkan itu, guru bekerja atas nilai dasar rasa keikhlasan dan kasih sayang dengan tujuan mengubah perilaku seseorang," ungkapnya.

Perubahan perilaku seseorang, lanjut dia, hanya bisa dilakukan secara optimal lewat kasih sayang. "Jadi tak perlu heran kalau ada fenomena guru yang mau mengajar walau tak dibayar," katanya.

Tetapi dalam perkembangannya, lingkungan tidak bisa membatasi profesi guru sehingga banyak yang salah kamar dengan segala plus minusnya. Misalnya, jika guru yang dominan daya ototnya, maka dia akan menjadi guru yang cenderung memberi hukuman fisik bagi siswa.

Bahayanya, jika golongan thought-based profession menyusup menjadi guru. Golongan ini lebih menekankan pada olah pikir dan adu argumentasi. Tujuan jangka pendeknya adalah mempengaruhi pola pikir orang lain agar sejalan dengannya dengan target jangka panjang menguasai orang lain. "Kalau ini menyusup menyusup jadi guru, bahayanya mereka bisa jadi provokator. Hobinya jualan "kompor" untuk guru-guru lainnya," ucapnya. (hap/ziz)

Selasa, 15 Januari 2008

TEBAK TEBAKAN HARI KEDUA

1. Apa yang dikatakan semut bila bertemu dengan temannya? berikan alasan
2. Manakah yang lebih enak, "kopi susu" apa "Susu kopi" ?

BERHADIAH BAGI PENJAWAB BENAR PERTAMA
BURUUUUUUUUUAN!!!!!!!!!!

PELATIHAN HARI KE DUA

Budi Putranto

nah kalo ini adalah word artBudi Putranto

Budi Putranto

Budi Putranto

Budi Putranto

Ctrl+L

Ctrl+E

Ctrl+R

Rata kanan kiri Rata kanan kiri ctrl +j

Dari pada memilih menggunakan mouse lebih baik gunakan Ctrl+D sehingga huruf akan berganti

Sedang membesarkan memakai Ctrl+] dan mengecilkan kebalikannya memakai Ctrl+[

Tool bar



Jendela/ windows dari menu bar file


Untuk Membesarkan Huruf

UNTUK MEMBESARKAN HURUF sift f3

untuk membesarkan huruf shift f3 2x

H2O memakai ctrl + +=

+ plus tambah ctrl + u

Untuk spasi ctrl +1 spasi 1

Untuk spasi ctrl +2 spasi 2

Untuk spasi ctrl +5 spasi 1,5

ÿ&$"ü

Untuk menyimpan dengan aman sebuah data extensi doc digunakan konversi rich text format karena itu dasar dari word.










Equation editor

Editor pembuatan rumus